Lipto

Featured

[Featured][recentbylabel]

Asal SEO

Jumat, 17 Mei 2019

Simulasi PAT Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/SLTP K13


Berikut ini adalah contoh soal dan simulasi Penilaian Akhir Tahun (PAT) mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII (Tujuh) Tingkat SMP atau SLTP Kurikulum 2013.

Soal PAT Bahasa Indonesia Kelas VII K13 berisi 40 soal pilihan ganda.

Selamat mencoba.

Jumat, 26 April 2019

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Diseleksia tidak identik dengan bodoh. Diseleksia merupakan salah satu bentuk dari keuslitan belajar yang disebabkan oleh adanya fuungsi yang tidam harmonis pada otak, khususnya area bahasa. Anak diseleksia atau susah membaca mengalami gangguan perkembangan yang menyebabkan mereka tidak dapat mengenal simbol dan bunyi huruf, seperti membedakan huruf V dan A.

Kemampuan mengenali phonic atau bunyi huruf ini penting bagi kemampuan membaca. Karena itulah, anak diseleksia mengalami kesulitan dalam membaca. Padahal, membaca adalah kemampuan yang penting dikuasai untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Cara mengajarkan anak yang susah membaca atau mengalami diseleksia adalah dengan menerapkan prinsip, anak diseleksia bukanlah orang nodoh. Ini adalah anggapan yang salah yang sering disematkan kepada mereka karena sering ketinggalan dari teman-teman sebaya disekolahnya.

Di sekolah, anak diseleksia bisa unggul dalam pelajaran yang tidak melibatkan aksara, seperti olahraga dan musik.

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Cara mengajarkan anak yang susah membaca adalah dengan tidak menyerah. Bagi para orangtua dari anak diseleksia, selalu lakukan remedial atau mengulang pelajaran sekolah dirumah, dan jika diperlukan temukan terapis yang tepat untuk memandu anak. Kemudian cari tahu kelebihan dan kesukaan anak dan fokuskanlah disana, sebab inilah yang bakal menjadi prestasinya kelak.

Terapi yang dilakukan sebagai cara mengajarkan anak yang susah membaca adalah dengan menggunakan terapi sensori integrasi antara penglihatan, sentuhan, dan audiotori. Latihan berulang dengan memadukan atara gambar dan huruf dan mengulang kembali bunyi huruf juga umum diterapkan. Durasi dan intensitas terapi yang disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi diseleksia

Kegagalan terapi membaca umumnya datang dari motivasi pasien terapi yang rendah. Kalau sudah ada dorongan semangat untuk belajar, maka upaya terapis yang sudah berusaha maksimal pun akan sia-sia. Terapi juga baru efektif pada anak dengan kontak mata yang sudah bagis karena sudah bisa diajari untuk berkonsentrasi.

Selain itu, ada beragam kendala yang sering dihadapi dalam proses terapi diseleksia, seperti kondisi anak yang kurang baik karena kurang tidur, salah makan, atau diet tidak teratur, sehingga anak mengalami kesulitan berkonsentrasi, dan banyak menangis.

Guru Honorer Antara Pengabdian dan Harapan

Lipto.id - Guru yang di antaranya guru honorer, sering disebut sebagai sosok yang digugu dan ditiru bahkan tidak berlebihan barangkali mereka ini merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Karena, merekalah yang membantu pemerintah mengisi kekosongan guru PNS dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Nasib sebagai guru honorer merupakan tanggung jawab yang suci jika hal ini diiringi oleh niat suci pula dalam rangka membangun kader-kader bangsa yang kompetitif, berakhlak, dan ber-kepribadian.

Guru Honorer Antara Pengabdian dan Harapan

Guru honorer bukan persoalan baru, melainkan persoalan yang membutuhkan kerja nyata dari pemerintah untuk mengakomodasi mereka menjadi CPNS (calon pegawai negeri sipil). Mungkin inilah arah CPNS untuk mengakomodasi mereka melalui pendekatan seleksi administrasi (pemberkasan) dengan mengacu pada data yang riil dan berasaskan pada nilai keadilan.

Guru Honorer Antara Pengabdian dan Harapan

Apalagi, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah mendiskusikan sampai menjadi draf tentang pengang-katan tenaga honorer menjadi CPNS sebagai pengganti dari PP 48 tahun 2005 jo. PP 43 tahun 2007 tentang Pengangkatan Te-naga Honorer.

Draf RPP tersebut menjadi isue dan opini yang menarik terutama di kalangan aktivis guru honorer dalam ikut serta mengkaji isinya dan mengawal RPP tersebut segera disahkan oleh DPR RI.

Harapan

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah berkewajiban menyejahterakan dan mencerdaskan bangsa. Amanat konstitusi negara ini dalam konteks realisasi di lapangan perlu diimplementasikan oleh seluruh elemen masyarakat dan dalam hal ini guru honor/non-PNS turut serta membantu pemerintah khususnya dalam mencerdas-kan kehidupan bangsa.

Pada prinsipnya, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Untuk terwujudnya cita-cita dan amanat Undang-Undang Dasar 1945, tentu membutuhkan berbagai sarana dan prasarana serta kerja sama dari berbagai elemen.

Salah satu tenaga yang ikut menyumbang dan memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan intelektual dan moral bangsa adalah guru yang di antaranya adalah guru honorer/non-PNS.

Tidak apabila pemerintah saat ini harus memperhatikan mereka yakni guru honor sekolah (GHS) yang telah lama mengabdikan diri dan usia mereka sudah lanjut jika mengikuti rekrutmen CPNS secara umum.

Disadari atau tidak, jasa mereka dalam ikut mencerdaskan bangsa memiliki nilai strategis sama halnya dengan guru-guru yang sudah PNS.

Saya melihat di lapangan, geliat guru honor dalam mendidik tunas-tunas bangsa begitu bersemangat. Maka, tak heran jika semangat mereka tidak kalah dengan guru yang sudah CPNS atau bahkan bisa lebih.

Dalam konteks peningkatan profesionalisme pun guru honorer senantiasa meningkatkan kemampuan (kompetensi) sebagai pendidik, misalnya mengikuti kegiatan organisasi profesi, seminar, workshop, dan pelatihan baik yang ber-temakan pendidikan maupun umum.

Sejatinya, peran mereka yang begitu strategis dalam mendorong generasi bang-sa supaya cerdas, mandiri, beriman, dan berakhlak mulia perlu diapresiasi oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Konpensasi apresiasi ini bukan hanya janji, namun lebih jauh ada sebuah perhatian terkait dengan perubahan status mereka menjadi CPNS ataupun bisa saja melirik mereka dari kesejahteraannya. Apalagi, di daerah masih ada guru honorer yang diberi insentif setiap bulannya seratus ribu rupiah. Ironis memang, namun inilah kenyataannya bahwa guru honorer sekolah walaupun penghasilan minim, tetapi mengabdi kepada negeri tidak berhenti.

Angin segar terhadap perubahan nasib guru ho-nor sekolah mulai me-nggeliat setelah rapat gabungan Komisi II, Ko-misi VIII, dan Komisi X DPR-RI bersama Men-diknas, Menteri Agama, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Kepala Badan Pusat Statistik, dan Kepala Badan Kepegawaian Negara di DPR RI, Senin, 25 Januari 2010. Adapun salah satu rekomendasi dari rapat gabungan itu menyatakan bahwa guru honorer harus diangkat menjadi CPNS.

Disusul dengan munculnya Surat Edaran (SE) tentang Pemetaan Tenaga Honorer dari Menpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 5 Tahun 2010, walaupun tidak ada indikasi secara langsung bahwa pendataan tersebut berimplikasi pada rekrutmen CPNS secara otomatis. Akan tetapi, saya melihat ini merupakan langkah awal perbaikan keberadaan guru honorer seiring dengan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi CPNS sebentar lagi akan disahkan.

Atas dasar itu, tidak berlebihan kiranya bahwa pemerintah saat ini memprioritaskan guru honor sekolah yang sudah lama mengabdikan diri dan usia mereka sudah tidak memung-kinkan mengikuti tes CPNS secara umum untuk menjadi CPNS melalui pemberkasan atau seleksi administrasi.

Asal SEO

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done