Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca - Lipto

Jumat, 26 April 2019

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Diseleksia tidak identik dengan bodoh. Diseleksia merupakan salah satu bentuk dari keuslitan belajar yang disebabkan oleh adanya fuungsi yang tidam harmonis pada otak, khususnya area bahasa. Anak diseleksia atau susah membaca mengalami gangguan perkembangan yang menyebabkan mereka tidak dapat mengenal simbol dan bunyi huruf, seperti membedakan huruf V dan A.

Kemampuan mengenali phonic atau bunyi huruf ini penting bagi kemampuan membaca. Karena itulah, anak diseleksia mengalami kesulitan dalam membaca. Padahal, membaca adalah kemampuan yang penting dikuasai untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Cara mengajarkan anak yang susah membaca atau mengalami diseleksia adalah dengan menerapkan prinsip, anak diseleksia bukanlah orang nodoh. Ini adalah anggapan yang salah yang sering disematkan kepada mereka karena sering ketinggalan dari teman-teman sebaya disekolahnya.

Di sekolah, anak diseleksia bisa unggul dalam pelajaran yang tidak melibatkan aksara, seperti olahraga dan musik.

Cara Mengajarkan Anak Yang Susah Membaca

Cara mengajarkan anak yang susah membaca adalah dengan tidak menyerah. Bagi para orangtua dari anak diseleksia, selalu lakukan remedial atau mengulang pelajaran sekolah dirumah, dan jika diperlukan temukan terapis yang tepat untuk memandu anak. Kemudian cari tahu kelebihan dan kesukaan anak dan fokuskanlah disana, sebab inilah yang bakal menjadi prestasinya kelak.

Terapi yang dilakukan sebagai cara mengajarkan anak yang susah membaca adalah dengan menggunakan terapi sensori integrasi antara penglihatan, sentuhan, dan audiotori. Latihan berulang dengan memadukan atara gambar dan huruf dan mengulang kembali bunyi huruf juga umum diterapkan. Durasi dan intensitas terapi yang disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi diseleksia

Kegagalan terapi membaca umumnya datang dari motivasi pasien terapi yang rendah. Kalau sudah ada dorongan semangat untuk belajar, maka upaya terapis yang sudah berusaha maksimal pun akan sia-sia. Terapi juga baru efektif pada anak dengan kontak mata yang sudah bagis karena sudah bisa diajari untuk berkonsentrasi.

Selain itu, ada beragam kendala yang sering dihadapi dalam proses terapi diseleksia, seperti kondisi anak yang kurang baik karena kurang tidur, salah makan, atau diet tidak teratur, sehingga anak mengalami kesulitan berkonsentrasi, dan banyak menangis.

Share with your friends

Berikan opini Anda.

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done